HORIZONE – Usai melakukan aktivitas jalan santai sehat, Komunitas Jalan Sehat (KJS) Gor Batutupang melakukan ekplor wisata ke Kota Sawahlunto Sabtu (25/7).
Touring ekplor wisata ke Sawahlunto diikuti 40 orang anggota KJS menjelajahi dan menikmati tempat rekreasi menikmati keindahan alam, budaya, atau tempat baru yang belum pernah dikunjungi. Selain itu juga menikmati kuliner khas di daerah setempat.

Sekretaris KJS Gor Batutupang Ir. H. Admaizon sebelum berangkat mengatakan, touring kali ini menjelajahi Kota Sawahlunto untuk mengeksplorasi tempat wisata di Kota tersebut.
” KJS Gor Batutupang bertamasya untuk bersenang-senang dan menyegarkan pikiran guna menghilangkan rasa bosan dari rutinitas sehari-hari, ” ungkap Admaizon.
Eksplor Sawahlunto untuk menemukan tempat tersembunyi atau sudut unik di suatu daerah. Sehingga mendapat pengalaman seru serta mengenal budaya lokal dan makan khas daerah tersebut, ujarnya.

Lokasi tujuan Lubang Tambang Mbah Soero. Lubang ini dibuka tahun 1898 oleh kolonial Belanda merupakan bekas tambang batu bara bawah tanah. Lubang ini menjadi objek wisata sejarah dan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. dan dinamai Mbah Soerono dari seorang mandor pekerja paksa atau orang rantai.
Orang Rantai adalah tenaga kerja paksa yang merupakan tahanan masa kolonial yang didatangkan dari berbagai daerah. Disebut orang rantai karena saat bekerja kakinya dirantai .
Menurut petugas setempat panjang terowongan bawah tanah yang dibuka sebagai objek wisata sepanjang 135 meter dengan kedalaman sekitar 30 meter. Sementara trowongan lain masih ditutup sampai saat ini.
-

Foto bersama dengan latar belakang Lubang Mbah Suro
Tidak jauh dari Lubang Mbah Suro terdapat Gudang Ransum yang merupakan bangunan bersejarah tempat penyimpanan makanan bagi para pekerja tambang batu bara dan tentara pada masa kolonial Belanda, yang kini menjadi museum.
Gudang Ransum dibangun tahun 1918 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sarana memasak dan menyediakan makanan bagi ribuan pekerja paksa (orang rantai) dan pasien rumah sakit.
Di museum Gudang Ransum bisa dilihat peninggalan mesin-mesin uas pengolah makanan besar yang dibuat pada masa lalu. koleksi peralatan masak raksasa, foto-foto lama, serta pakaian buruh tambang. Peninggalan ini masuk dalam situs warisan dunia UNESCO (Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto).
Sebelumnya rombongan KJS Gor Batutupang mampir di Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum ini diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla pada tanggal 17 Desember 2005, merupakan museum perkeretaapian tertua kedua di Indonesia. Museum ini menyimpan koleksi lokomotif uap ikonik Mak Itam dan artefak sejarah pertambangan batu bara Ombilin.
Stasiun ini menghubungkan Sawahlunto dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Pembangunan rel kereta apinya membutuhkan waktu selama 5 tahun, mulai tanggal 16 Juli 1889 dan selesai pada tanggal 1 Februari 1894.
Baca juga : Payakumbuh Local Brand 2026 Dibuka: Mendorong UMKM Lokal Menuju Pasar Internasional
Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto diakui UNESCO, destinasi ini memberikan wawasan mendalam mengenai sejarah emas hitam di Sumatra Barat.
Rombongan juga menikmati enaknya pical di Bantingan dan tidak lupa belanja makanan khas Sawahlunto. Saat belanja tempe, Sarmidon anggota KJS mengatakan, Tempe Sawahlunto kok agak taba dan lunak kalau di pacik (Tempe Sawahlunto agak tebal dan lembut di pegang) yang lain pun mengaminkan. (Dari Berbagai Sumber)










Discussion about this post