HORIZONE – Sumatra Barat tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga kekayaan sejarah kerajaannya yang megah. Salah satu situs sejarah paling bernilai di Ranah Minang adalah Ustano Rajo, kompleks pemakaman raja-raja Minangkabau yang terletak di Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar.
Dikutip dari web Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumbar, di sinilah tempat peristirahatan terakhir Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah, Raja Alam Pagaruyung yang wafat pada tahun 1825 dalam usia 80 tahun.
Situs ini menjadi bukti bisu eksistensi Rajo Tigo Selo, sebuah institusi tertinggi dalam Kerajaan Pagaruyung yang dalam tambo adat dikenal dengan istilah Limbago Rajo.

Dalam struktur adat Pagaruyung, Rajo Tigo Selo terdiri dari tiga raja yang berasal dari satu garis keturunan yang sama, yaitu:
- Raja Alam: Merupakan pemimpin tertinggi yang memutuskan segala hal mengenai pemerintahan secara keseluruhan. Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung.
- Raja Adat: Bertugas mengatur segala urusan adat istiadat dan berkedudukan di Buo.
- Raja Ibadat: Bertanggung jawab atas urusan keagamaan dan berkedudukan di Sumpur Kudus.
Berdasarkan silsilah raja-raja Pagaruyung, pasca-wafatnya Sultan Alam Muningsyah, tahta Raja Alam kemudian diteruskan oleh cucunya, Sultan Alam Bagagar Syah.
Pada masa yang sama, saudara sepupunya yang bernama Sultan Abdul Jalil yang berada di Buo dikukuhkan menjadi Raja Adat dengan gelar Yang Dipertuan Sembahyang.
Sultan Alam Bagagar Syah sendiri memiliki saudara perempuan bernama Puti Reno Sari, dimana mereka merupakan anak dari Tuan Gadih Puti Reno Janji dan Yang Dipertuan Fatah yang sempat menyingkir ke Padang pada masa pergolakan.
Secara arkeologis, kompleks makam Ustano Rajo memiliki karakteristik unik yang memadukan unsur budaya lokal Minangkabau dan pengaruh Islam yang kuat:
- Jumlah Makam: Terdapat 13 buah makam di dalam kompleks ini.
- Material Jirat: Jirat atau kijing makam terbuat dari susunan batu andesit dengan ukuran panjang 210–300 cm, lebar 115–260 cm, dan tinggi 35–45 cm.
- Orientasi Makam: Menghadap Utara-Selatan, yang merupakan ciri khas pemakaman Islam.
- Karakteristik Nisan: Menggunakan nisan tipe “Tanah Datar” berbentuk pipih. Sebagian nisan dihiasi motif geometris, garis, dan ukiran sulur-suluran yang indah, sementara sebagian lainnya berupa batu polos alami.

Tepat di sebelah kanan (sisi selatan) kompleks makam keramat ini, terdapat sebuah area yang disebut Medan Nan Bapaneh. Lapangan terbuka beralaskan batu ini secara adat digunakan sebagai gelanggang tempat bermusyawarah atau pertemuan penting para pemuka adat.
Saat ini, Ustano Rajo Pagaruyung tidak hanya menjadi cagar budaya yang dilindungi, tetapi juga destinasi wisata sejarah andalan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mempelajari sistem pemerintahan monarki di Sumatra Barat.
(***)










Discussion about this post