HORIZONE – Ide sederhana yang berangkat dari persoalan petani salak berhasil mengantarkan tiga mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Purwokerto meraih prestasi membanggakan di tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Tim yang mengusung nama SALACCA tersebut berhasil meraih Juara III Entrepreneur Competition 2026, yang diselenggarakan oleh Soedirman Engineering Entrepreneurship Organization (SEEO) Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).
Dalam kompetisi yang mengangkat tema “From Idea to Impact: Turning Creativity into Business” itu, Tim SALACCA menghadirkan inovasi “PURE SALACCA JAM – Selai Cinta dari Tanah Banjarnegara”, yakni selai premium berbahan dasar salak pondoh pilihan asal Banjarnegara.
Tim SALACCA terdiri atas Rahmalia Dewi sebagai ketua, bersama Okki Falikah Ramadhani dan Rahma Nurchairani sebagai anggota.
Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang mewakili Universitas Terbuka Purwokerto – Pokjar Dr. Sukirman Banjarnegara.
Keberhasilan tersebut menjadi semakin istimewa karena kompetisi diikuti sekitar 50 tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Tengah dan DIY.
Setelah melalui tahapan seleksi proposal, hanya lima tim terbaik yang berhak melaju ke babak final.
Pada babak final yang digelar secara daring melalui Zoom pada 23 Agustus 2026, Tim SALACCA mempresentasikan gagasan bisnis sekaligus konsep pengembangan produk di hadapan dewan juri.
Hasilnya, Nine Hundred dari UNSOED meraih Juara I, disusul Soedirman Innovators dari UNSOED sebagai Juara II, sementara SALACCA dari Universitas Terbuka menempati posisi Juara III.
Berangkat dari Persoalan Petani
Rahmalia Dewi dan timnya tidak sekadar menciptakan produk untuk kebutuhan kompetisi. Gagasan PURE SALACCA JAM lahir setelah mereka melakukan observasi langsung terhadap kondisi petani salak di Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara.
Saat musim panen raya, melimpahnya produksi salak justru dapat membuat harga jual turun hingga sekitar Rp3.000 per kilogram. Di sisi lain, buah yang tidak segera terserap pasar berisiko mengalami pembusukan.
Kondisi tersebut mendorong Tim SALACCA mencari cara agar salak tidak hanya dijual sebagai buah segar, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
“Produk ini kami gagas bersama setelah melihat langsung permasalahan petani salak. Kami ingin mengubah salak menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus membantu mengurangi potensi buah terbuang,” ungkap Tim SALACCA.
PURE SALACCA JAM dibuat dari salak pondoh, gula, air, jeruk nipis, dan kayu manis. Produk tersebut mengedepankan cita rasa manis-asam yang segar dengan tekstur lembut serta penggunaan bahan tambahan yang minim pengawet dan pewarna buatan.
Proses produksi mulai dikembangkan sejak Juni 2026. Dalam satu kali produksi, tim mampu menghasilkan sekitar 18 botol dengan waktu pengerjaan kurang lebih empat jam, melalui tahapan sortasi bahan, pemasakan selama sekitar 60 menit, pengemasan secara steril, hingga pelabelan.
Sebelum mengikuti kompetisi, produk juga telah diuji kepada 20 responden yang berasal dari organisasi, instansi, dan masyarakat. Hasil uji tersebut mendapatkan tanggapan positif.
Cerita Sosial Jadi Kekuatan
Di hadapan dewan juri, Tim SALACCA tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita mengenai potensi ekonomi daerah dan persoalan yang dihadapi petani.
Menurut tim, kekuatan utama proposal mereka terletak pada perpaduan dampak sosial, kreativitas produk, serta perencanaan bisnis dan keuangan yang terukur.
Hal itu sejalan dengan komentar dewan juri yang menilai produk PURE SALACCA JAM memiliki cerita yang kuat, membawa dampak sosial, serta menawarkan cita rasa yang unik. Tim juga mendapat masukan agar memperkuat aspek branding untuk pengembangan produk ke depan.
Dalam kompetisi tersebut, penilaian mencakup aspek proposal dan presentasi. Proposal menyumbang 44 persen penilaian, meliputi orisinalitas, kreativitas, keuangan dan risiko, serta kelayakan. Sementara presentasi menyumbang 40 persen, yang terdiri atas kemampuan presentasi, penyampaian isi, serta kemampuan menjawab pertanyaan juri.

Bidik Oleh-Oleh Khas Banjarnegara
Bagi Tim SALACCA, raihan Juara III bukan menjadi akhir perjalanan. Prestasi tersebut justru menjadi pijakan untuk membawa PURE SALACCA JAM berkembang menjadi produk oleh-oleh khas Banjarnegara.
Ke depan, tim berencana melakukan evaluasi dan perbaikan berdasarkan masukan dewan juri, memperkuat branding, memperluas pemasaran ke toko oleh-oleh, serta mengembangkan penjualan melalui platform digital seperti Shopee dan TikTok.
Tidak berhenti di sana, Tim SALACCA juga menyiapkan pengembangan varian baru, termasuk SALACCA Spicy.
Target jangka panjang yang ingin diwujudkan cukup besar, yakni menjadikan PURE SALACCA JAM sebagai salah satu ikon oleh-oleh khas Banjarnegara sekaligus mampu menyerap hingga 10 ton salak petani setiap tahun.
Bagi ketiga mahasiswa tersebut, prestasi di Entrepreneur Competition 2026 menjadi bukti bahwa inovasi tidak harus selalu lahir dari kota besar. Ide yang tumbuh dari persoalan masyarakat dan potensi daerah pun dapat dikembangkan menjadi sebuah peluang bisnis yang memiliki nilai ekonomi sekaligus dampak sosial.
“Kami bangga dan bersyukur. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ide yang berasal dari daerah juga memiliki peluang untuk bersaing dan memberikan dampak,” ujar Tim SALACCA.
Atas prestasi tersebut, Tim SALACCA memperoleh uang pembinaan Rp400 ribu, e-sertifikat, dan plakat sebagai Juara III Entrepreneur Competition 2026. (TS)










Discussion about this post