Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat memanfaatkan lahan secara produktif melalui program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B). Tidak hanya menghasilkan pangan, budidaya alpukat di kawasan perbukitan juga dinilai memiliki manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.
Dodi Astan mengatakan, pemanfaatan lahan perbukitan yang memiliki kemiringan untuk budidaya tanaman buah merupakan langkah positif dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Pemanfaatan lahan untuk budidaya alpukat merupakan langkah positif dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Selain memberikan manfaat ekonomi, hasil panennya juga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Dodi.
Dodi mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan tanaman alpukat di kawasan perbukitan Payo. Menurutnya, penanaman pohon alpukat memiliki manfaat ganda karena dapat mengoptimalkan lahan kosong sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan. Pepohonan yang ditanam di kawasan perbukitan dapat membantu mengikat tanah dan mengurangi risiko erosi. Pada saat yang sama, tanaman alpukat juga berpotensi menjadi sumber pendapatan masyarakat ketika memasuki masa produktif.
“Penanaman alpukat tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga merupakan langkah nyata untuk menghijaukan lingkungan, mencegah erosi dan menciptakan sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Dodi melakukan pengecekan langsung terhadap pertumbuhan tanaman alpukat di lahan seluas kurang lebih 2 hektare. Ia juga berdialog dengan petani terkait perawatan tanaman, perkembangan buah serta berbagai kendala yang dihadapi selama proses budidaya.
Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah petani sekaligus menjadi bentuk dukungan dan motivasi agar masyarakat semakin optimal memanfaatkan lahan yang tersedia sebagai sumber pangan produktif.
Sementara itu, Sapar, salah seorang petani alpukat di Payo, mengungkapkan bahwa dirinya saat ini memiliki sekitar 200 batang pohon alpukat yang sebagian sudah mulai berbuah. Sebagian besar tanaman yang dibudidayakannya merupakan jenis lokal atau yang dikenal masyarakat sebagai alpukat mentega, salah satu jenis yang cukup diminati pecinta alpukat.
Menurut Sapar, dalam satu pohon yang sudah produktif, hasil panen dapat mencapai puluhan kilogram. Namun, untuk mendapatkan produksi dan kualitas buah yang baik, petani harus memperhatikan berbagai aspek budidaya. Mulai dari pemilihan bibit, lokasi penanaman, penyiraman, pemupukan hingga pengendalian hama dan penyakit menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya alpukat.
“Kalau perawatannya konsisten dan teknik budidayanya benar, tanaman alpukat dapat mulai berbuah sejak usia tiga sampai empat tahun. Namun rata-rata sekitar lima tahun sudah mulai berbuah secara maksimal,” jelas Sapar.
Sapar mengatakan, produksi alpukat di kebunnya saat ini belum memasuki masa panen raya. Meski sejumlah pohon sudah menghasilkan buah cukup banyak, produksinya belum sampai melimpah. Kondisi tersebut membuat harga jual alpukat masih cukup baik, yakni sekitar Rp10.000 per kilogram. Menariknya, buah hasil panen bahkan dibeli langsung oleh pedagang yang datang ke kebun petani.
“Sekarang belum bisa dikatakan panen raya, Buahnya memang sudah banyak, tetapi belum membludak. Harga jual masih lumayan, sekitar Rp10.000 per kilogram, dan pembeli langsung menjemput ke kebun petani,” ungkapnya.
Kegiatan monitoring tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari tingkat paling bawah melalui pemanfaatan lahan yang tersedia secara produktif. Budidaya alpukat di Payo tidak hanya berpotensi menyediakan sumber pangan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang sekaligus mendukung konservasi lingkungan.
Melalui pendampingan dan komunikasi dengan masyarakat, Bhabinkamtibmas Kelurahan Tanah Garam berharap sinergi antara Polri dan masyarakat semakin kuat dalam mendukung program Asta Cita Presiden RI, khususnya di bidang ketahanan pangan.
Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya masyarakat yang semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus membangun lingkungan yang hijau, produktif, aman dan kondusif di Kota Solok.










Discussion about this post